Arista Montana dan Gerakan...

Arista Montana menjadi bagian dari gerakan besar menuju kemandirian pangan berbasis lokal.

Andy Utama Kembangkan Model...

Andy Utama mengembangkan model leuit modern sebagai solusi ketahanan pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Koperasi Desa sebagai Instrumen...

Koperasi desa menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.

Wahdi Azmi: Konservasi Tanpa...

Konservasi yang terintegrasi menciptakan keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan.
HomePolitikKisah klasik penyelundupan...

Kisah klasik penyelundupan imigran menuju Australia

Samuni – bukan nama sebenarnya – masih ingat dengan jelas pengalaman mengerikan saat membawa puluhan imigran ilegal dari Indonesia ke Australia. Pengalaman tersebut membuat Samuni kapok. Meskipun ditawari uang puluhan juta, ia mengaku tidak akan pernah melakukan perjalanan semacam itu lagi.

Samuni berangkat dari Pelabuhan Muara Angke pada suatu malam di bulan November tahun 2014. Ia hanya menggunakan kapal motor dengan tonase 10 gross tonage (GT). Penumpangnya adalah puluhan imigran dari Iran dan Sri Lanka. Tujuannya adalah Pulau Christmas, Australia.

“Pertama kali saya membawa imigran karena dibayar mahal sebesar Rp 30 juta,” kata Samuni saat berbicara dengan Alinea.id di Jakarta.

Awalnya, perjalanan kapal Samuni berjalan lancar. Namun, mereka “tersesat” di Samudera Hindia. Selama beberapa hari, kapal mereka dihantam ombak ganas. Sebagian penumpang mengalami dehidrasi dan persediaan makanan semakin menipis.

Samuni sempat berpikir bahwa kapalnya akan tenggelam atau mereka akan mati kelaparan di laut. Kesengsaraan mereka berakhir ketika polisi Australia menangkap Samuni dan penumpangnya di perairan Pulau Christmas.

“Ombak tinggi dan tidak ada kapal lain. Saya berpikir saya akan mati di sini. Saya tidak pernah membayangkan risiko besar saat menyelundupkan orang ke Australia,” ujar Samuni.

Samuni dan imigran lainnya dibawa ke Darwin untuk diproses hukum. Setelah ditahan selama sekitar 6 bulan, akhirnya Samuni dipulangkan ke Indonesia. Sementara para imigran memilih untuk tinggal di Australia.

Setelah kembali dari Australia, Samuni mendapat tawaran lagi untuk membawa imigran dari Indonesia ke Australia. Namun, ia menolak tawaran tersebut.

“Akhirnya teman saya yang ditawari. Dan apa yang terjadi? Teman saya belum kembali sampai sekarang. Orangtuanya di Makassar masih mencari tahu. Saya tidak tahu apakah dia selamat atau sekarang tinggal di Australia,” kata Samuni.

Kisah Samuni bukanlah kisah yang unik. Hingga saat ini, penyelundupan imigran dari berbagai negara ke Australia melalui Indonesia terus terjadi, baik melalui jalur udara maupun jalur laut. Para imigran biasanya berasal dari negara-negara yang sedang mengalami konflik.

Orang Indonesia juga menjadi korban dalam kasus ini. Pada bulan Juli, Bareskrim Polri mengungkap kasus perdagangan orang terhadap 50 warga negara Indonesia. Mereka diangkut ke Australia untuk dijadikan pekerja seks.

Belum lama ini, Direktorat Jenderal Imigrasi juga menangkap dua warga negara Indonesia yang diduga melakukan penyelundupan 28 imigran ilegal menuju Australia.

Menurut Aminah Dewi Rahmawati, seorang sosiolog dari Universitas Trunojoyo Madura, ada banyak faktor yang menyebabkan kasus perdagangan orang ke Australia terus meningkat. Terutama bagi imigran yang berasal dari Indonesia, tekanan ekonomi menjadi faktor utama yang membuat mereka rela menempuh risiko mati di laut demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Australia.

Di Indonesia, banyak penyalur tenaga kerja yang berperan sebagai calo untuk perdagangan orang antara Indonesia dan Australia. Namun, aparat penegak hukum terkadang terlambat dalam mengatasi kasus-kasus ini. Pencegahan belum menjadi fokus utama dalam mengatasi kasus perdagangan orang.

Menurut Ricky Ekaputra, seorang dosen administrasi bisnis di Universitas Nusa Cendana, maraknya kasus perdagangan orang dari Indonesia ke Australia berkorelasi dengan situasi ekonomi dalam negeri. Penyelundupan imigran ke Australia semakin meningkat karena adanya gelombang PHK besar-besaran di Indonesia.

Ricky juga setuju bahwa penegak hukum harus lebih waspada dalam mengantisipasi penyelundupan imigran ke Australia. Menurutnya, kasus-kasus yang terungkap saat ini belum sepenuhnya mencerminkan situasi sebenarnya dari perdagangan orang Indonesia ke Australia. Hal ini menunjukkan bahwa penegak hukum harus lebih proaktif dalam menangani dampak dari kasus-kasus ini.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita