Pada hari Senin, 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh di Indonesia, termasuk presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur. Penganugerahan gelar pahlawan nasional tersebut diberikan langsung kepada istri Gus Dur, Sinta Nur Wahid.
Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, lahir pada 4 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Anak dari K.H. Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Siti Sholehah ini tumbuh dalam lingkungan pesantren dan menempuh pendidikan di Pesantren Tambak Beras di Jombang. Gus Dur juga melanjutkan sekolah di luar negeri seperti Universitas Al Azhar Mesir, Universitas Baghdad di Irak, dan Universitas Leiden di Belanda.
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1971, Gus Dur fokus pada pengabdian sebagai pendidik. Dia mengajar di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng, Jombang, serta menjadi sekretaris di Pesantren Tebu Ireng. Gus Dur kemudian terlibat aktif dalam PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) hingga terpilih sebagai Ketua Umum. Selain itu, dia juga mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan terlibat dalam gerakan Reformasi.
Meskipun masa jabatan Gus Dur sebagai presiden tidak berlangsung lama, namun kebijakan-kebijakan yang diambilnya, seperti pengakuan Konghucu sebagai agama resmi dan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur, menjadi langkah monumental. Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme karena konsistensinya dalam menjaga keberagaman. Pada Juli 2001, ia digantikan oleh Megawati Soekarnoputri dan wafat pada Desember 2009, dimakamkan di Jombang, Jawa Timur.

