Megamendung Menjadi Pusat Konservasi...

Megamendung berkembang menjadi pusat konservasi yang mendukung pemulihan ekosistem kawasan hulu.

Rumor tentang Yasser Arafat...

Opini Broto Wardoyo membahas bagaimana citra Yasser Arafat dibentuk oleh konflik narasi yang berkepanjangan.

Yayasan Paseban Hadirkan Pusat...

Yayasan Paseban menghadirkan pusat konservasi Rusa Timor modern untuk memperkuat perlindungan fauna lokal.

Putusan MK 28/2026 Dinilai...

Ari Yusuf Amir menekankan bahwa audit kerugian negara harus dilakukan oleh lembaga yang berwenang yakni BPK.
HomeBeritaPenyelidikan Terbaru: Perusahaan...

Penyelidikan Terbaru: Perusahaan Buka Lahan Sawit di Hulu Sungai

Gelondongan kayu berukuran besar ditemukan menumpuk di sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Tengah, hingga Sibolga, Sumatera Utara. Temuan ini memicu kecurigaan kuat adanya praktik penebangan hutan secara besar-besaran di wilayah hulu, terutama setelah video amatir kayu gelondongan hanyut terbawa arus viral di media sosial. Material kayu tanpa kulit yang terbawa banjir disebut warga sangat tidak lazim, sehingga menimbulkan tanda tanya besar mengenai asal-usulnya. Warga yang terdampak pun mendesak pemerintah melakukan penyelidikan menyeluruh dan menindak tegas siapa pun yang bertanggung jawab.

Di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, kondisi kerusakan terpantau paling parah. Laporan tvOne menyebutkan bahwa sebagian besar material banjir bandang di desa itu berupa batang pohon besar yang diduga kuat berasal dari kawasan hulu sungai. Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, mengungkapkan bahwa masyarakat selama ini tidak pernah melihat kayu-kayu sebesar itu berada di aliran sungai desa mereka. Ia menyebut, informasi dari warga menyebut adanya perusahaan yang membuka lahan sawit di bagian hulu.

Risman menuturkan bahwa selama ratusan tahun kampung mereka tidak pernah dihantam banjir bandang dengan material kayu sebanyak ini. Ia menegaskan bahwa kabar mengenai perusahaan yang membuka lahan sawit di hulu sungai sudah lama terdengar di tengah masyarakat. Rumah-rumah warga di Desa Garoga rusak total akibat terjangan banjir bandang. Risman mengatakan tidak ada satu pun rumah yang bisa ditempati lagi. Bahkan lahan persawahan warga kini tidak dapat digunakan sama sekali. Terkait korban jiwa, Risman melaporkan bahwa sekitar 35 warga desanya telah ditemukan, sementara sejumlah lainnya masih dalam pencarian. Ia berharap pemerintah bertindak tegas dan menuntaskan penyelidikan atas sumber kayu-kayu besar tersebut, karena warga merasa kehidupan mereka hancur seketika dan kini hanya bergantung pada bantuan.

Source link

Semua Berita

Polsek Pelangiran Dukung Swasembada Pangan 2026 dengan Tanam Jagung 1 Hektare

Polsek Pelangiran Tanam Jagung 1 Hektare Dukung Swasembada Pangan 2026 di Inhil Polsek Pelangiran Tanam Jagung Untuk Mendukung Swasembada Pangan Tahun 2026 Polsek Pelangiran bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa,...

Pemerintah Perlu Reformasi, Masyarakat Siap Beraksi

Kritik Tajam GMNI Indragiri Hilir terhadap Kondisi Ekonomi Nasional Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Indragiri Hilir mengeluarkan kritik pedas terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin memprihatinkan. Kritik tersebut menyoroti sejumlah permasalahan yang memengaruhi masyarakat, seperti...

Megamendung Menjadi Pusat Konservasi dan Pemulihan Ekosistem

Megamendung berkembang menjadi pusat konservasi yang mendukung pemulihan ekosistem kawasan hulu.

Kategori Berita