Gelondongan kayu berukuran besar ditemukan menumpuk di sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Tengah, hingga Sibolga, Sumatera Utara. Temuan ini memicu kecurigaan kuat adanya praktik penebangan hutan secara besar-besaran di wilayah hulu, terutama setelah video amatir kayu gelondongan hanyut terbawa arus viral di media sosial. Material kayu tanpa kulit yang terbawa banjir disebut warga sangat tidak lazim, sehingga menimbulkan tanda tanya besar mengenai asal-usulnya. Warga yang terdampak pun mendesak pemerintah melakukan penyelidikan menyeluruh dan menindak tegas siapa pun yang bertanggung jawab.
Di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, kondisi kerusakan terpantau paling parah. Laporan tvOne menyebutkan bahwa sebagian besar material banjir bandang di desa itu berupa batang pohon besar yang diduga kuat berasal dari kawasan hulu sungai. Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, mengungkapkan bahwa masyarakat selama ini tidak pernah melihat kayu-kayu sebesar itu berada di aliran sungai desa mereka. Ia menyebut, informasi dari warga menyebut adanya perusahaan yang membuka lahan sawit di bagian hulu.
Risman menuturkan bahwa selama ratusan tahun kampung mereka tidak pernah dihantam banjir bandang dengan material kayu sebanyak ini. Ia menegaskan bahwa kabar mengenai perusahaan yang membuka lahan sawit di hulu sungai sudah lama terdengar di tengah masyarakat. Rumah-rumah warga di Desa Garoga rusak total akibat terjangan banjir bandang. Risman mengatakan tidak ada satu pun rumah yang bisa ditempati lagi. Bahkan lahan persawahan warga kini tidak dapat digunakan sama sekali. Terkait korban jiwa, Risman melaporkan bahwa sekitar 35 warga desanya telah ditemukan, sementara sejumlah lainnya masih dalam pencarian. Ia berharap pemerintah bertindak tegas dan menuntaskan penyelidikan atas sumber kayu-kayu besar tersebut, karena warga merasa kehidupan mereka hancur seketika dan kini hanya bergantung pada bantuan.

