PT Agrinas Pangan Nusantara telah mengimpor 105 ribu kendaraan niaga pikap dan truk ringan secara utuh dari India untuk digunakan dalam operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Langkah ini telah menimbulkan berbagai kontroversi di dalam negeri. Pertanyaan pun muncul mengenai alasan di balik keputusan impor tersebut, terutama saat industri otomotif nasional sedang mengalami penurunan. Meskipun demikian, PT Agrinas Pangan Nusantara bersikeras bahwa impor tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dengan alasan bahwa produsen mobil India memiliki keunggulan dalam hal skala besar, harga kompetitif, dan ketersediaan yang cepat.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Ginanjar Kartasasmita mengekspresikan kekecewaannya atas keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mengimpor kendaraan niaga dari India. Menurutnya, industri otomotif nasional memiliki kapasitas yang cukup untuk memproduksi kendaraan niaga, sehingga adanya impor tersebut dianggap tidak mendukung industri dalam negeri. Menperin juga menegaskan bahwa apabila kebutuhan kendaraan pick-up bisa dipenuhi melalui produksi dalam negeri, maka hal tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia.
Meskipun demikian, keputusan impor ini tetap berlanjut, dan anggota GAIKINDO serta Asosiasi PIKKO Indonesia menilai bahwa industri dalam negeri sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan kendaraan niaga. Dengan kapasitas produksi yang ada, industri otomotif nasional diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus mengimpor secara besar-besaran. Keputusan impor ini juga dipertanyakan karena dapat mengganggu ekosistem industri otomotif dalam negeri.
Kritik terhadap keputusan impor ini juga menyoroti pola impor skala besar yang dianggap sebagai bentuk ‘kleptokrasi’. Selama ini, keputusan impor yang dilakukan oleh pemerintah telah menimbulkan kerugian pada industri dalam negeri dan menguntungkan pemasok asing. Di tengah kondisi industri otomotif yang masih lesu, impor 105 ribu kendaraan niaga dari India dipandang sebagai langkah yang merugikan bagi industri dalam negeri dan masyarakat. Impor tersebut juga dipertanyakan karena dapat mengganggu ekosistem industri otomotif nasional dan merugikan desa serta industri lokal.

