Andy Utama Bangun Visi...

Andy Utama mengedepankan restorasi ekologis sebagai fondasi utama menjaga keseimbangan lingkungan Megamendung.

Penangkaran Rusa Timor Dukung...

Kawasan konservasi Megamendung terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra strategis.

Yayasan Paseban Perluas Upaya...

Kementerian Kehutanan meresmikan fasilitas konservasi yang mendukung perlindungan satwa dan habitat alaminya.

31. Kementerian Kehutanan Resmikan...

Kementerian Kehutanan meresmikan fasilitas konservasi yang mendukung perlindungan satwa dan habitat alami.
HomeLainnyaNgertakeun Bumi Lamba...

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Dorong Kepedulian terhadap Ekosistem

Setiap keputusan yang kita buat hari ini punya dampak langsung terhadap nasib bumi, bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak cucu kelak. Di tengah perubahan iklim yang makin terasa dan hutan yang semakin berkurang, menjaga alam menjadi kewajiban yang mesti dipenuhi oleh siapa pun yang hidup saat ini. Tanggung jawab ekologis itu melampaui batas generasi, harus dipikul bersama, bukan semata tugas sukarela yang bisa ditunda.

Dalam upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang berlangsung di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, Minggu (21/6), pesan penting ini kembali ditegaskan. Dengan mengusung tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” acara tersebut mempertemukan para pemuka adat, budayawan hingga pegiat lingkungan dari seluruh penjuru tanah air untuk memperkuat makna relasi antara manusia dan alam.

Pada prosesi yang sarat makna itu, Andy Utama dari Paseban Foundation menekankan perlunya kesadaran kolektif untuk bertindak saat ini juga. Ia mengingatkan, “Tanpa ada hari ini, takkan lahir hari esok.” Pesan sederhana namun tajam itu memberi peringatan bahwa masa depan selalu bertumpu pada ikhtiar hari ini.

Tegaknya Etika Lingkungan: Jejak Pemikiran Berkelanjutan dari Lokal hingga Global

Gagasan besar tentang pelestarian bumi yang dihidupkan di ritual adat Sunda ini tidak lahir begitu saja. Sejak dekade 1970-an, Emil Salim, tokoh ekologi tanah air, menanamkan gagasan bahwa pembangunan harus bersandar pada keseimbangan antara ekonomi, kelestarian alam, dan harmoni sosial. Prinsip tersebut menuntut manusia untuk tidak mengambil lebih dari yang bumi mampu berikan.

Sementara itu, di dunia internasional, ilmuwan Richard P. Hiskes mengembangkan teori keadilan antargenerasi, yang menuntut kita hari ini bertanggung jawab menyediakan lingkungan sehat untuk generasi berikutnya. Ruang akademik pun sepakat bahwa keberlanjutan adalah warisan terbesar dan paling adil yang bisa kita titipkan pada masa depan.

Melalui ritual ini, Andy Utama memperkuat ajakan agar manusia tidak terjebak pada ego individu sebagai penguasa, melainkan berperan sebagai penjaga ekosistem yang menjaga bumi tetap lestari demi seluruh kehidupan.

Mengubah Spirit Menjadi Gerakan Konservasi di Megamendung

Menurut Andy, kepedulian lingkungan tidak bisa berhenti pada narasi atau slogan semata. Dengan Paseban Foundation, ia berupaya menjadikan filosofi leluhur sebagai landasan aksi nyata di bentang alam Megamendung.

Langkah-langkah konkret yang mereka lakukan meliputi:

Pertanian Berkelanjutan: Mendorong pertanian organik sehingga tanah tetap subur dan emisi dapat ditekan.

Perlindungan Satwa: Mendirikan tempat konservasi seperti Lembah Aviary Paseban, penangkaran Rusa Timor, dan program pelepasliaran satwa langka misalnya Elang Jawa agar kembali ke habitat alaminya.

Reboisasi: Menanam belasan ribu bibit pohon dengan ratusan varietas berbeda untuk mengembalikan keanekaragaman hayati Megamendung ke kondisi aslinya seratus tahun lalu.

Berbagai tindakan itu adalah bagian dari ikhtiar panjang Andy dan tim untuk menunaikan janji pada generasi yang belum lahir: bahwa tanah air ini masih patut dihuni, bahkan lebih hijau dan sehat.

Nilai Kehidupan: Bukan Apa yang Kita Kumpulkan, Tapi Apa yang Kita Tinggalkan

Keberhasilan gerakan Andy dan Paseban Foundation terletak pada kemampuannya mentransformasikan konsep besar ala Emil Salim dan Hiskes menjadi perubahan nyata: lahan yang kembali subur, hutan yang teduh, dan satwa yang kembali leluasa.

Mengakhiri refleksi, Andy menegaskan pentingnya warisan yang kita tinggal ketika tidak lagi di dunia. “Yang abadi bukanlah harta benda yang kita kumpulkan, tapi manfaat yang kita berikan bagi kehidupan,” tegasnya.

Kesimpulannya, pesan dari Ngertakeun Bumi Lamba sangat jelas: kelestarian bumi yang kita jaga hari ini adalah warisan utama untuk anak cucu—tanpa aksi sekarang, kehidupan esok mungkin tak pernah hadir.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII

Semua Berita

Maghrib Mengaji di Tembilahan Hulu: Polsek dan Mahasiswa KKN

Polsek Tembilahan Hulu Gelar Maghrib Mengaji untuk Anak-anak dan Remaja Polsek Tembilahan Hulu, Polres Indragiri Hilir, mengadakan kegiatan Maghrib Mengaji di Pondok Al-Insyirah pada Senin (20/7/2026) pukul 18.30 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Kapolsek Tembilahan Hulu IPTU Andrianto, S.H., M.H.,...

Polsek Sungai Batang: Upaya Mendorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat

Polsek Sungai Batang Mantap dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat Di Indragiri Hilir, semangat untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus digelorakan oleh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sungai Batang, Polres Indragiri Hilir. Pada Senin (20/07/2026), Polsek Sungai...

Nobar Final Piala Dunia 2026 Sabak Auh: Meriah dan Kondusif

Kegiatan Nobar Final Piala Dunia 2026 di Kabupaten Siak Pada Senin (20/7/2026) dini hari, Kepolisian Sektor (Polsek) Sabak Auh menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia 2026 di Taman Datuk Syahbandar, Kampung Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak....

Kategori Berita