Broto Wardoyo: Profesionalisme Militer...

Profesionalisme militer tidak identik dengan pembatasan seluruh aktivitas militer hanya pada operasi pertahanan konvensional.

Nezar Patria Dukung Penyebarluasan...

Nezar Patria menilai penyebarluasan data konservasi penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap lingkungan.

Konservasi Megamendung Didorong Melampaui...

Konservasi Megamendung didorong menjadi gerakan lintas generasi yang terus berkembang melalui dukungan Paseban Foundation.

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII...

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII memperkuat semangat kolektif menjaga keseimbangan ekosistem melalui nilai budaya dan tradisi.
HomeLainnyaPaseban Foundation Tunjukkan...

Paseban Foundation Tunjukkan Kemajuan Nyata dalam Pelestarian Alam

Di kawasan Megamendung, Bogor, berada di kaki gunung yang tidak terlalu jauh dari ibu kota, sebuah kenyataan menarik terungkap: seluruh spesies primata tersisa di Pulau Jawa masih ditemukan hidup berdampingan di area yang relatif sempit. Paseban Foundation, organisasi konservasi yang fokus pada pelestarian alam Jawa, telah melakukan riset lapangan, pemasangan kamera jebakan, dan observasi jangka panjang untuk memverifikasi temuan ini.

Keberhasilan mendokumentasikan fauna langka tersebut diumumkan dalam acara tahunan Paseban Foundation di Jakarta pada 10 Agustus 2026, yang juga sekaligus memperingati Hari Konservasi Alam Nasional dan tonggak dua tahun keberadaan yayasan tersebut. Dalam sambutannya, Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menyoroti bagaimana tekanan akibat ekspansi manusia di Pulau Jawa mengurangi ruang bagi satwa liar. Meski demikian, Megamendung masih menjadi satu-satunya kantong alami di mana kelima jenis primata Jawa bertahan bersama.

Lebih dari itu, survei Paseban Foundation juga mengidentifikasi keberadaan satwa-satwa kunci lain seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta berbagai flora dan fauna ekosistem pegunungan tropis khas Jawa Barat. Walaupun terletak di pinggiran Jakarta dan menjadi bagian dari Cagar Biosfer Cibodas, kawasan Megamendung menghadapi tantangan besar akibat pembangunan yang masif serta tekanan manusia yang terus meningkat.

Cagar biosfer bukan hanya menjamin lindungnya zona inti, tetapi juga mengatur pemanfaatan area penyangga dan interaksi manusia dengan sumber daya alam di sekitarnya. Pola kelola seperti ini menjadi penting agar hutan, tata air, ruang gerak fauna liar, hingga zona pemukiman dan pertanian dapat saling menyeimbangkan kebutuhan ekologis dan sosial ekonomi.

Menurut Wiratno, penasihat yayasan, pola pikir administratif tidak bisa disamakan dengan dinamika bentang alam. Pergerakan satwa dan aliran air menembus batas-batas buatan manusia, sehingga sinergi lintas sektor sangat penting untuk kelangsungan hidup flora dan fauna. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat lokal, serta pegiat lingkungan difokuskan dalam model manajemen bersama untuk menjaga ekosistem Megamendung.

Implementasi nyata kolaborasi ini berupa penanaman ribuan pohon endemik di wilayah Megamendung. Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 21.831 bibit lokal telah ditanam dengan tujuan memperkuat kembali tutupan hutan yang mulai terdegradasi, sekaligus memulihkan fungsi ekologis kawasan tersebut.

Selain perlindungan di alam liar, Paseban Foundation mulai mengembangkan upaya konservasi di luar habitat asli melalui pembiakan burung dan mamalia. Pada program penangkaran, sudah tercapai keberhasilan dengan kelahiran anak rusa di lingkungan terlindung, yang diharapkan dapat kembali membangun populasi rusa liar setelah dilepasliarkan ke alam Megamendung.

Namun, proses reintroduksi tidak bisa asal mengembalikan hewan ke hutan. Setiap individu harus melalui rehabilitasi, penilaian kemampuan bertahan hidup, kesesuaian habitat baru, dan pemantauan pasca pelepasan untuk memastikan keberlanjutan populasi dan kestabilan ekosistem.

Andy Utama, pendiri dan pembina yayasan, menegaskan pentingnya kesinambungan misi pemulihan lingkungan yang dirancang dalam jangka waktu sangat panjang. Melalui Megamendung Century Initiative, Paseban Foundation punya target membangun kembali keutuhan ekosistem – baik tutupan hutan, rantai makanan, maupun tata air – agar mendekati daya dukung alaminya dalam 100-200 tahun mendatang. Tujuan besarnya bukan memutar ulang zaman lampau, tetapi mengembalikan keseimbangan ekologis dan harmonisasi hubungan manusia dengan alam.

Ia mengingatkan, konservasi alam membutuhkan ketahanan dan komitmen lintas generasi. “Upaya ini tidak mungkin selesai dalam beberapa tahun. Kita harus mewariskan usaha konservasi kepada generasi yang akan datang agar misi menjaga keberlanjutan alam bisa terus berjalan,” tegasnya.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor

Semua Berita

17 Penerbangan Batal Akibat Kabut Asap, Bandara Supadio Kembali Normal

Bandara Supadio Kembali Normal Setelah Karhutla Sabtu, 5 September 2026 - 10:45 WIB Bandara Supadio Kembali Normal Pasca Gangguan Karhutla Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat, akhirnya mulai kembali normal setelah sebelumnya terganggu oleh kabut asap akibat kebakaran...

Ancaman Pandemi Baru: Uji Skenario Vaksin 100 Hari

Indonesia Siap Hadapi Potensi Pandemi Baru dengan Strategi Vaksin dalam 100 Hari Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan strategi untuk menghadapi kemungkinan munculnya pandemi baru di masa depan. Fokus utamanya adalah mempercepat pengembangan vaksin agar dapat diproduksi dalam skala besar hanya dalam...

Gus Alex Bongkar Suap Anggota Panja DPR Rp1.500!

Geger: Gus Alex Ungkap Beri 24 Anggota Panja DPR 1.500 Riyal per Orang karena Diminta Uang Oleh-Oleh Persidangan kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2023-2024 semakin memanas dengan pengungkapan fakta mengejutkan. Terdakwa Ishfah Abidal Azis alias Gus Alex mengungkap bahwa...

Kategori Berita