Produk yang dipasarkan sebagai “tambal gigi instan” kini mudah ditemukan melalui platform belanja daring. Bahan tersebut ditawarkan sebagai cara praktis dan murah untuk menutup gigi berlubang tanpa pemeriksaan ke dokter gigi. Namun, penggunaan secara mandiri justru dapat menyembunyikan masalah yang belum ditangani dan membuat penyakit pada gigi terus berkembang.
Dokter Gigi Umum Palapa Dentists, drg. Rasyid Abdulaziz, mengingatkan bahwa penambalan gigi bukan sekadar menutup lubang dengan bahan tertentu. Sebelum tindakan dilakukan, dokter perlu memeriksa kondisi gigi secara menyeluruh untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Lubang gigi tidak cukup hanya ditutup
Menurut Rasyid, pemeriksaan mencakup kedalaman karies, kondisi pulpa, jaringan di sekitar gigi, serta hubungan gigitan. Pulpa merupakan bagian terdalam gigi yang berisi jaringan saraf dan pembuluh darah. Kondisi bagian tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum gigi ditambal.
“Sebelum dilakukan penambalan, dokter gigi perlu menilai kondisi gigi, kedalaman karies, kondisi pulpa, jaringan di sekitar gigi, serta hubungan gigitan. Karena itu, tindakan ini memerlukan pertimbangan klinis dan teknik yang tepat,” kata Rasyid, Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, gigi berlubang atau karies merupakan proses penyakit yang penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi klinis setiap pasien. Karies terjadi ketika bakteri dan produk metaboliknya secara bertahap merusak jaringan keras gigi.
Secara anatomi, gigi memiliki email sebagai lapisan terluar, dentin di bawah email, dan pulpa di bagian dalam. Semakin dalam kerusakan berlangsung, semakin besar kemungkinan pulpa mengalami peradangan atau kerusakan.
Risiko bahan tambal yang digunakan sendiri
Dalam prosedur penambalan, dokter gigi terlebih dahulu menghilangkan jaringan karies sesuai indikasi. Tindakan tersebut juga dilakukan dengan memperhatikan pengendalian kontaminasi dan kondisi jaringan gigi yang masih tersisa.
Langkah itu tidak dapat digantikan hanya dengan menempelkan bahan pada bagian gigi yang berlubang. Jika jaringan yang terinfeksi masih tertinggal lalu ditutup, masalah di dalam gigi dapat tetap berlangsung. Penutupan semacam itu juga berisiko membuat jaringan yang mengalami infeksi terperangkap.
“Ketika seseorang melakukan penambalan gigi sendiri menggunakan bahan tambal instan, tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko yang serius bagi kesehatan,” ujar Rasyid.
Ia menegaskan, keputusan untuk menambal gigi perlu didasarkan pada pemeriksaan, bukan semata-mata pada tampilan lubang atau kemudahan penggunaan produk. Tanpa mengetahui kedalaman karies dan kondisi jaringan di dalam gigi, penggunaan bahan tambal secara mandiri tidak menjamin penyelesaian masalah yang menjadi penyebabnya.

