Pusat Data dan Sistem...

Pusat data kini menjadi bagian dari infrastruktur strategis yang perlu dilindungi dalam sistem pertahanan negara.

Broto Wardoyo: Profesionalisme Militer...

Profesionalisme militer tidak identik dengan pembatasan seluruh aktivitas militer hanya pada operasi pertahanan konvensional.

Nezar Patria Dukung Penyebarluasan...

Nezar Patria menilai penyebarluasan data konservasi penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap lingkungan.

Konservasi Megamendung Didorong Melampaui...

Konservasi Megamendung didorong menjadi gerakan lintas generasi yang terus berkembang melalui dukungan Paseban Foundation.
HomeGaya HidupBahaya Tambal Gigi...

Bahaya Tambal Gigi Instan Online: Risiko Infeksi dan Bengkak

Produk yang dipasarkan sebagai “tambal gigi instan” kini mudah ditemukan melalui platform belanja daring. Bahan tersebut ditawarkan sebagai cara praktis dan murah untuk menutup gigi berlubang tanpa pemeriksaan ke dokter gigi. Namun, penggunaan secara mandiri justru dapat menyembunyikan masalah yang belum ditangani dan membuat penyakit pada gigi terus berkembang.

Dokter Gigi Umum Palapa Dentists, drg. Rasyid Abdulaziz, mengingatkan bahwa penambalan gigi bukan sekadar menutup lubang dengan bahan tertentu. Sebelum tindakan dilakukan, dokter perlu memeriksa kondisi gigi secara menyeluruh untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Lubang gigi tidak cukup hanya ditutup

Menurut Rasyid, pemeriksaan mencakup kedalaman karies, kondisi pulpa, jaringan di sekitar gigi, serta hubungan gigitan. Pulpa merupakan bagian terdalam gigi yang berisi jaringan saraf dan pembuluh darah. Kondisi bagian tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum gigi ditambal.

“Sebelum dilakukan penambalan, dokter gigi perlu menilai kondisi gigi, kedalaman karies, kondisi pulpa, jaringan di sekitar gigi, serta hubungan gigitan. Karena itu, tindakan ini memerlukan pertimbangan klinis dan teknik yang tepat,” kata Rasyid, Jumat (25/9/2026).

Ia menjelaskan, gigi berlubang atau karies merupakan proses penyakit yang penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi klinis setiap pasien. Karies terjadi ketika bakteri dan produk metaboliknya secara bertahap merusak jaringan keras gigi.

Secara anatomi, gigi memiliki email sebagai lapisan terluar, dentin di bawah email, dan pulpa di bagian dalam. Semakin dalam kerusakan berlangsung, semakin besar kemungkinan pulpa mengalami peradangan atau kerusakan.

Risiko bahan tambal yang digunakan sendiri

Dalam prosedur penambalan, dokter gigi terlebih dahulu menghilangkan jaringan karies sesuai indikasi. Tindakan tersebut juga dilakukan dengan memperhatikan pengendalian kontaminasi dan kondisi jaringan gigi yang masih tersisa.

Langkah itu tidak dapat digantikan hanya dengan menempelkan bahan pada bagian gigi yang berlubang. Jika jaringan yang terinfeksi masih tertinggal lalu ditutup, masalah di dalam gigi dapat tetap berlangsung. Penutupan semacam itu juga berisiko membuat jaringan yang mengalami infeksi terperangkap.

“Ketika seseorang melakukan penambalan gigi sendiri menggunakan bahan tambal instan, tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko yang serius bagi kesehatan,” ujar Rasyid.

Ia menegaskan, keputusan untuk menambal gigi perlu didasarkan pada pemeriksaan, bukan semata-mata pada tampilan lubang atau kemudahan penggunaan produk. Tanpa mengetahui kedalaman karies dan kondisi jaringan di dalam gigi, penggunaan bahan tambal secara mandiri tidak menjamin penyelesaian masalah yang menjadi penyebabnya.

Source link

Semua Berita

Arya Wedakarna Balas Billy, Singgung Turis Lokal Suka Nawar

Polemik antara anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK) dan Billy Syahputra mengenai pelayanan wisatawan di Bali kembali memanas. Dalam video wawancara yang beredar, Arya menyinggung perilaku wisatawan lokal ketika menggunakan jasa pariwisata, termasuk kebiasaan menawar harga dan memberikan tip...

Hospital Expo 2026 Pamerkan AI dan Robotik Kesehatan

Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dan robotik menjadi salah satu fokus utama Indonesia International Hospital Expo 2026 yang berlangsung di ICE BSD City, Tangerang, pada 7–10 Oktober 2026. Teknologi yang ditampilkan mencakup perangkat untuk membantu mendeteksi risiko penyakit, mendukung keputusan...

**Kurang Gerak Picu Cedera, Cegah dengan Jalan Kaki 7.000 Langkah**

Kurang bergerak bukan sekadar membuat tubuh terasa kaku setelah seharian duduk. Kebiasaan tersebut juga disebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap cedera dan keluhan fisik yang pada akhirnya membuat seseorang membutuhkan fisioterapi. Chief Physiotherapist Physiorehab, Simon Tri Prasetyo, mengatakan cedera yang ditangani...

Kategori Berita