Menangis kerap dianggap sebagai tanda kelemahan, terutama ketika seseorang berusaha mempertahankan citra kuat di hadapan orang lain. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan perspektif kesehatan mental. Tangisan disebut sebagai salah satu mekanisme alami tubuh dalam melepaskan emosi dan membantu proses pemulihan diri.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut menyoroti manfaat menangis bagi kesehatan jiwa melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram miliknya. Dalam unggahan tersebut, Budi menekankan bahwa air mata tidak semestinya dipandang sebagai bukti bahwa seseorang rapuh.
“Jangan salah, menangis itu ternyata ada manfaatnya loh buat kesehatan jiwa,” kata Budi, dikutip Kamis (1/10/2026).
Menangis bukan tanda seseorang rapuh
Pernyataan itu disampaikan di tengah kebiasaan sebagian orang menahan tangis agar tetap terlihat tegar. Dalam situasi tertentu, ekspresi emosi bahkan masih sering dinilai sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan. Akibatnya, seseorang dapat memilih untuk memendam perasaan daripada mengakuinya secara terbuka.
Padahal, berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam artikel tersebut, menangis merupakan proses alami tubuh. Pelepasan emosi melalui tangisan dipandang memiliki dampak positif bagi kesehatan jiwa, sehingga tidak seharusnya langsung dikaitkan dengan ketidakmampuan menghadapi masalah atau keadaan yang sulit.
Budi dalam unggahannya menyebut terdapat empat manfaat menangis bagi kesehatan mental. Meski demikian, rincian keempat manfaat tersebut tidak dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Inti pesannya adalah bahwa menangis memiliki fungsi bagi kesehatan jiwa dan bukan sekadar reaksi emosional yang menunjukkan kelemahan.
Memberi ruang bagi emosi
Menangis juga dapat dipahami sebagai bentuk pengakuan terhadap emosi yang sedang dirasakan. Ketika seseorang membiarkan dirinya menangis, ia tidak selalu berarti menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, tangisan dapat menjadi cara alami untuk mengekspresikan perasaan yang sulit disampaikan melalui kata-kata.
Pandangan tersebut menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan seseorang. Menahan air mata demi memenuhi anggapan bahwa seseorang harus selalu kuat bukan satu-satunya pilihan. Dalam konteks yang disampaikan Menteri Kesehatan, memberi ruang bagi emosi melalui tangisan justru merupakan bagian dari proses menjaga kesehatan jiwa.
Pesan Budi sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai orang yang menangis sebagai sosok lemah. Tangisan, menurut penjelasan itu, merupakan respons alami tubuh yang dapat membawa manfaat bagi kesehatan mental.

