Arista Montana dan Gerakan...

Arista Montana menjadi bagian dari gerakan besar menuju kemandirian pangan berbasis lokal.

Andy Utama Kembangkan Model...

Andy Utama mengembangkan model leuit modern sebagai solusi ketahanan pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Koperasi Desa sebagai Instrumen...

Koperasi desa menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.

Wahdi Azmi: Konservasi Tanpa...

Konservasi yang terintegrasi menciptakan keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan.
HomeprabowoKEPEMIMPINAN PEMIMPIN NASIONAL...

KEPEMIMPINAN PEMIMPIN NASIONAL INDONESIA [FIRST MARSHALL TNI PERTAMA ISWAHJUDI YANG MENINGGAL DUNIA]

The history of how the predecessors formed a military unit is very important for a military organisation. Members of a military organisation need to know the achievements and experiences of its forerunners.

By knowing its past, members will be more inspired in performing their duties. We know that each military unit has a distinctive character, identity, even psychology.

A military unit consists of a group of people who always have a brush with danger. They must be prepared for the chance of getting killed in action at all times. They are trained to be deployed into the battlefields and to carry out difficult missions.

First Marshall Posthumous Iswahjudi was born in Surabaya in 1918. Iswahjudi is also known as the pioneer of the Indonesian Air Force alongside Adisoetjipto, Abdulrachman Saleh, and Husein Sastranegara.

He actively participated in the military from a young age, such as in the Volunteer Aviator Corps (Vrij-Wilig Vliegers Corps or VVC), formed to defend the Dutch government from the Japanese offensive. In one instance, he was appointed as the only Indonesian volunteer to be an agent for the Allies in a secret mission in Java.

He was also listed as the first cadet of Adisoetjipto Aviation School. His aviation career was brilliant. In the post-independence period, he became an aviation student at Maguwo. In December 1945, Iswahjudi joined the People’s Security Air Force led by Adisoetjipto in Yogyakarta.

Iswahjudi was later appointed Commander of Maospati airbase, in Madiun, in 1947, due to his unconditional dedication. Furthermore, at the end of 1947, Iswahjudi was appointed to pioneer the development of the Bukittinggi airbase.

After that, Iswahjudi was appointed along with Halim Perdanakusuma to retrieve an Avro Anson VH-BBY aircraft that the Indonesian government had just purchased. However, on their homebound journey on December 14, 1947, they encountered bad weather in the Strait of Malacca. The plane crashed into a treetop in Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Both were killed on duty.

Source link

Semua Berita

Prabowo Kembali dari Tiongkok: Tiba di Indonesia Rabu Malam

Prabowo Subianto kembali ke Indonesia setelah menghadiri perayaan 80 Tahun Kemenangan Perlawanan Rakyat Tiongkok di Beijing dan bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Kedatangan Prabowo di Bandara Halim Perdanakusuma dikepalai oleh Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi. China menyatakan dukungan terhadap...

Prabowo’s Return From China: Essential Insights

Presiden Prabowo Subianto kembali ke Indonesia setelah mengunjungi Beijing untuk merayakan 80 tahun kemenangan China dalam Perang Perlawanan. Prabowo tiba di Bandara Halim Perdanakusuma pada Rabu malam, disambut oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden...

Prabowo Subianto’s Beijing Meeting with Xi Jinping: Significant Agreements

Prabowo Subianto dan Xi Jinping bertemu di Beijing dan mencapai kesepakatan penting dalam pertemuan mereka. Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat untuk menangani berbagai isu krusial yang mempengaruhi hubungan antara Indonesia dan Tiongkok. Prabowo Subianto, yang kala itu menjabat sebagai...

Kategori Berita