Thursday, January 15, 2026

Pipa Gas PT TGI...

Telah terjadi kebocoran pipa gas milik PT Trans Gas Indonesia (TGI) di Dusun...

Pamer Cincin Kawin Rully...

Rully Anggi Akbar dengan tegas membantah rumor yang menyebut bahwa dia dan istrinya,...

Lima Orang Dilaporkan ke...

Dugaan penyerobotan lahan sawit berskala besar mencuat di Kabupaten Kampar, Riau. Lima orang...

Makanan Rawan Mikroplastik yang...

Mikroplastik, sebagian besar dikenal hadir dalam makanan laut, namun penelitian menunjukkan bahwa mereka...
HomePolitikPentingnya suara generasi...

Pentingnya suara generasi Z dalam Pilgub Jakarta

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta sudah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) untuk Pilgub Jakarta sebanyak 8.214.007 jiwa. milenial (kelahiran 1981-1996) dan generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang bakal ikut dalam pecoblosan pada 27 November 2024 mendatang mengambil porsi kurang lebih 50%. Suara mereka menjadi kunci kemenangan pasangan calon pemimpin Jakarta kelak.

Berdasarkan survei Litbang Kompas yang digelar pada 20-25 Oktober 2024, calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta nomor urut 1, Ridwan Kamil-Suswono mendapat 40,6% dukungan generasi Z. Bersaing ketat dengan pasangan Pramono Anung-Rano Karno yang meraih sebanyak 31,3%. Sedangkan Dharma Pongrekun-Kun Wardana hanya 4,2%. Sebagian besar dari generasi Z yang bakal berpartisipasi dalam Pilgub Jakarta merupakan pemilih pertama.

Menurut Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Farhan Badiuz, yang juga masuk dalam kalangan generasi Z, ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sejauh ini, dia mengaku masih memantau program-program para kandidat yang dapat menjawab segala masalah di Jakarta.

Farhan menyebut, ada banyak isu yang menjadi perhatian generasi Z yang harus dibenahi oleh pemimpin Jakarta nanti, di antaranya kemacetan, banjir, polusi udara, transportasi umum, pengelolaan sampah, pendidikan, kesehatan, dan kesenjangan antara miskin dan kaya.

“Masih banyak lagi hal-hal kecil yang harus dibenahi. Itu hanya sebagian saja yang saya sebutkan,” kata Farhan kepada Alinea.id, Rabu (20/11).

Mahasiswa yang juga merupakan bagian dari generasi Z, kata Farhan, memiliki peran penting dalam mengawal proses demokrasi. Menurutnya, mahasiswa punya kapasitas intelektual untuk menjadi pemilih cerdas karena terbiasa dengan riset dan diskusi.

“Kami dari BEM mengadakan diskusi publik secara rutin untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa. Tujuannya agar mereka memilih pemimpin berdasarkan visi, misi, dan gagasan, bukan tren atau gimik semata,” kata Farhan.

Sementara itu, peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati melihat, ada sebanyak 23% pemilih di Pilgub Jakarta adalah generasi Z, yang berusia 18-24 tahun.

“Proporsi ini menunjukkan, segmen pemilih Jakarta kini makin muda dari segi usia,” ujar Wasisto, Rabu (20/11).

Menurut Wasisto, generasi Z memiliki perhatian yang besar terhadap isu ketersediaan lapangan pekerjaan. Isu itu sangat relevan, mengingat angka pengangguran di Jakarta mencapai 6%, di mana sekitar 70% di antaranya adalah generasi muda.

“Ketersediaan lapangan kerja adalah isu krusial bagi generasi Z dalam menentukan pilihan politik mereka,” ucap Wasisto.

“Generasi Z cenderung responsif terhadap isu yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti pekerjaan dan lingkungan. Ini menjadi titik strategis bagi pasangan calon untuk mendekati mereka.”

Dia juga menyoroti kesenjangan usia antara pasangan calon dengan generasi Z. Hal ini menjadi tantangan dalam pendekatan politik. “Cara mendekati segmen ini harus inklusif. Kesenjangan usia membuat paslon perlu strategi khusus untuk bisa lebih relevan dengan generasi Z,” kata Wasisto.

Meski antusiasme generasi Z dalam politik adalah peluang besar untuk menggerakkan perubahan, tetapi Wasisto mengingatkan, mereka harus diarahkan dengan baik. Wasisto mengatakan, keteribatan generasi Z dalam politik masih menghadapi tantangan berupa kesenjangan pemahaman politik.

Banyak dari mereka, kata Wasisto, juga lebih terpengaruh oleh narasi populer di media sosial, seperti TikTok atau Instagram, yang belum tentu relevan dengan isu-isu utama di Jakarta. Dia mengingatkan, media sosial pun punya sisi negatif berupa disinformasi.

“Arus disinformasi di platform media sosial ini bisa membingungkan mereka,” kata Wasisto.

“Edukasi politik perlu ditingkatkan, baik oleh pemerintah, universitas, maupun komunitas yang peduli pada masa depan demokrasi. Ini penting, agar antusiasme mereka tidak hanya menjadi euforia sesaat, tetapi juga memberikan dampak nyata.”

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita