Dinding Boneng mengungkapkan rasa bersalahnya setelah rumahnya ambruk hampir menimpa anaknya ketika tidur. Dia menyadari bahwa masalah terjadi karena tembok rumah yang sudah lapuk dan kurangnya perhatian dalam melakukan renovasi. Boneng merasa menyesal atas keadaan tersebut dan mengakui bahwa ia terlalu santai dan menunda perbaikan struktur bangunan.
Dalam pengawasan pembangunan ulang rumahnya dengan bantuan warga, Boneng mengaku bahwa rumah tersebut sudah dalam kondisi yang sangat lapuk dan tidak pernah diperbarui. Dia mengakui bahwa kelalaian dan keterlambatan dalam menangani masalah tersebut merupakan kesalahannya. Meskipun insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa atau luka, anak Boneng hampir menjadi korban saat bangunan ambruk.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi Boneng dan mengingatkannya akan pentingnya menjaga dan merawat rumah dengan baik. Dengan pengalaman pahit ini, ia berkomitmen untuk lebih memperhatikan keamanan dan kenyamanan rumahnya agar kejadian serupa tidak terulang. Semoga peristiwa ini dapat menjadi alarm bagi semua orang untuk tidak mengabaikan pentingnya perawatan dan renovasi bangunan secara berkala.

