Ngertakeun Bumi Lamba XVIII...

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII memperkuat semangat kolektif menjaga keseimbangan ekosistem melalui nilai budaya dan tradisi.

Andy Utama Bangun Visi...

Andy Utama mengedepankan restorasi ekologis sebagai fondasi utama menjaga keseimbangan lingkungan Megamendung.

Penangkaran Rusa Timor Dukung...

Kawasan konservasi Megamendung terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra strategis.

Yayasan Paseban Perluas Upaya...

Kementerian Kehutanan meresmikan fasilitas konservasi yang mendukung perlindungan satwa dan habitat alaminya.
HomeLainnyaMegamendung Menjadi Pusat...

Megamendung Menjadi Pusat Konservasi dan Pemulihan Ekosistem

Lanskap Megamendung di Kabupaten Bogor kembali menegaskan perannya sebagai pusat upaya konservasi di tingkat nasional. Baru-baru ini, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal KSDAE meresmikan dua fasilitas konservasi, yaitu Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor, sekaligus melakukan pelepasliaran dua Elang Jawa ke alam liar kawasan Megamendung.

Acara peresmian tersebut dilakukan langsung oleh Dirjen KSDAE, Prof. Dr. Setyawan Pudyatmoko, mewakili Menteri Kehutanan. Dalam sambutannya, ia menyoroti pentingnya penguatan konservasi berbasis lanskap yang mencakup pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat sekitar, pendidikan lingkungan, dan pengembangan riset di bidang keanekaragaman hayati.

Dua burung Elang Jawa bernama Agni dan Beta secara simbolis dilepasliarkan ke habitat asal di Megamendung. Satwa endemik ini merupakan prioritas nasional dalam pelestarian, dikarenakan populasinya yang semakin menurun dan pentingnya peran mereka dalam keseimbangan ekosistem.

Tak hanya itu, Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor kini bertransformasi menjadi fasilitas penelitian, pusat pendidikan, dan penopang pemulihan populasi satwa lokal. Pemerintah berharap fasilitas ini bisa menjadi inspirasi bagi program konservasi lainnya di Nusantara.

Yayasan Paseban yang dipimpin Andy Utama juga tampil sebagai ujung tombak pengembangan kawasan konservasi ini. Mereka menggunakan pendekatan terintegrasi yang menitikberatkan pada pelestarian alam, pemulihan bentang wilayah, praktik pertanian organik yang berkelanjutan, edukasi lingkungan bagi masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal lewat pemberdayaan.

Andy Utama sebagai pembina Yayasan Paseban menegaskan visi besar mereka, yakni menghidupkan kembali fungsi ekologis Megamendung. Menurutnya, kawasan ini harus terus dijaga agar tetap menjadi rumah bagi satwa liar serta sumber daya alam yang penting di Jawa Barat.

“Kami ingin mengembalikan Megamendung agar mendekati kesempurnaan kondisi ekosistemnya seperti dahulu. Kami ingin melestarikan habitat alami, menjaga sumber mata air, dan mewariskan lingkungan hidup yang sehat kepada anak cucu kami nanti,” ungkap Andy Utama.

Gerakan yang digagas Yayasan Paseban awalnya muncul dari kegiatan pertanian organik pada 16 tahun lalu. Seiring perjalanan waktu, program ini berkembang menjadi pemulihan kawasan yang lebih luas dan komprehensif, menyentuh aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat.

Sebagai bagian dari Hari Konservasi Alam Nasional 2024, upaya penanaman pohon secara bersinambung dilakukan di kawasan Megamendung. Data menunjukan bahwa sedikitnya 21.831 pohon dari lebih 200 jenis kini sudah tertanam dan terpetakan di wilayah ini. Itu dilakukan bersama para mitra, sebagai bentuk nyata pemulihan ekosistem dan penegakan fungsi ekologis lanskap tersebut.

Prof. Setyawan Pudyatmoko memberi apresiasi tinggi terhadap kolaborasi antara Yayasan Paseban, pemerintah daerah, Perum Perhutani, masyarakat, dan akademisi dalam membangun konservasi di Megamendung. Ia menilai kemitraan ini sebagai role model pelaksanaan konservasi in-situ dan ex-situ yang sekaligus menyeimbangkan manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi.

Kawasan Megamendung menempati posisi penting sebagai bagian dari rangkaian bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas, kawasan strategis yang sudah diakui oleh UNESCO. Hal ini semakin memacu komitmen semua pihak untuk menjaga ekosistemnya.

Satwa prioritas seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, hingga Trenggiling Sunda serta beragam burung hutan lain masih bertahan hidup di kawasan ini. Oleh karena itu, pengembangan pertanian organik dan pemberdayaan masyarakat yang berjalan beriringan dengan konservasi menjadi daya dorong utama.

Kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, Yayasan Paseban, dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan Megamendung sebagai laboratorium hidup bagi praktik konservasi terbaik di Indonesia. Sinergi berbagai pihak ini membuktikan bahwa pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat bisa tumbuh bersama dalam satu lanskap yang utuh dan produktif.

Sumber: Konservasi Megamendung Menguat, Andy Utama Dorong Perlindungan Satwa Liar
Sumber: Andy Utama Sulap Megamendung Jadi Pusat Konservasi Alam, Ribuan Pohon Dan Satwa Dilindungi

Semua Berita

Maghrib Mengaji di Tembilahan Hulu: Polsek dan Mahasiswa KKN

Polsek Tembilahan Hulu Gelar Maghrib Mengaji untuk Anak-anak dan Remaja Polsek Tembilahan Hulu, Polres Indragiri Hilir, mengadakan kegiatan Maghrib Mengaji di Pondok Al-Insyirah pada Senin (20/7/2026) pukul 18.30 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Kapolsek Tembilahan Hulu IPTU Andrianto, S.H., M.H.,...

Polsek Sungai Batang: Upaya Mendorong Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat

Polsek Sungai Batang Mantap dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat Di Indragiri Hilir, semangat untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus digelorakan oleh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sungai Batang, Polres Indragiri Hilir. Pada Senin (20/07/2026), Polsek Sungai...

Nobar Final Piala Dunia 2026 Sabak Auh: Meriah dan Kondusif

Kegiatan Nobar Final Piala Dunia 2026 di Kabupaten Siak Pada Senin (20/7/2026) dini hari, Kepolisian Sektor (Polsek) Sabak Auh menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia 2026 di Taman Datuk Syahbandar, Kampung Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak....

Kategori Berita