Peta koalisi partai politik di Pilgub DKI Jakarta semakin menyempit. Awal pekan lalu, Partai NasDem secara resmi mendeklarasikan dukungannya untuk Anies Baswedan sebagai kandidat Gubernur DKI. Anies sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Selain ketiga partai tersebut, Anies juga diminati oleh PDI-Perjuangan. Ketua DPP PDI-P, Puan Maharani menyatakan kemungkinan partainya mendukung Anies di atas 50%. Namun, Puan juga tidak menutup kemungkinan PDI-P untuk mengusung calonnya sendiri.
“Masih banyak waktu bagi kita untuk melihat perkembangan dan dinamika politik yang sedang berkembang,” ujar Puan kepada wartawan di Jakarta.
Potensi lahirnya poros ketiga yang diinisiasi oleh PDI-P semakin kuat dalam Pilgub DKI karena partai tersebut memiliki Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, Ahok memiliki elektabilitas yang cukup tinggi di Pilgub DKI.
Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani, menyatakan Gerindra dan Koalisi Indonesia Maju (KIM) telah sepakat dalam menentukan kandidat yang akan diusung di Pilgub DKI dan Jabar. Muzani juga mengungkapkan kegembiraannya dalam menghadapi Anies di ibu kota.
Menurut Direktur Kajian Politik Nasional, Adib Miftahul, kandidat yang disiapkan KIM sulit untuk menggeser dominasi Anies di Pilgub DKI Jakarta. Adib menilai bahwa Anies masih sangat kuat, terlebih jika mendapat dukungan dari PDI-P.
Pengamat politik, Ujang Komarudin, melihat bahwa peta koalisi parpol di Pilgub DKI masih dinamis. Kekuatan politik Anies bisa terus digerus dengan adanya perkembangan koalisi parpol.
Dengan butuh minimal 22 kursi untuk mencalonkan kandidat di Pilgub DKI, PDI-P tidak bisa mengusung kandidatnya sendiri. Jika KIM tetap solid dan partai pendukung Anies tidak berubah, hanya tersisa Perindo dan PPP dengan masing-masing satu kursi di DPRD DKI.

