Friday, January 23, 2026

Kapolres Bengkalis Peringatkan Tiga...

Kapolres Bengkalis, AKBP Fabrian Saleh Siregar, menegaskan komitmenya untuk menindak tegas anggota Polri...

Cha Eun Woo Pindahkan...

Kabar dugaan penggelapan pajak yang melibatkan aktor Korea, Cha Eun Woo, kini tengah...

Kunjungan Bupati Kasmarni: Pendidikan...

Bupati Bengkalis, Kasmarni, melakukan kunjungan kerja ke Desa Bantan Timur, Kecamatan Bantan, untuk...

Pemberitaan Media Inggris Membuat...

Pangeran Harry menghadiri sidang gugatan terhadap ANL pada Rabu, 21 Januari 2026, di...
HomeOpiniKembalinya Indonesia ke...

Kembalinya Indonesia ke IGGI: Peluang dan Tantangan

Orde Baru Indonesia tidak pernah berutang ke IMF selama 32 tahun karena Indonesia pada masa itu merupakan donatur IMF. Hal ini karena bunga yang diterima oleh para kreditur Eropa dibayarkan kepada Pak Harto melalui organisasi Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) yang didirikan pada tahun 1967. Namun, akibat kerusuhan tahun 1998, IGGI berubah menjadi CGI dan akhirnya bubar. Akibatnya, Indonesia terpaksa berutang kepada IMF dengan syarat-syarat yang cukup berat.

Dapatkah RI menghidupkan kembali IGGI? Sejarah menunjukkan bahwa pasca wafatnya Soeharto pada tahun 2008, akad IGGI dilanjutkan dengan Prince Donni Saputra Sandjojo Hamidjojo Suparto. Selain berutang ke IMF, Indonesia juga bisa berutang ke World Bank dengan bunga nol persen. Pembahasan mengenai penjaminan utang negara melalui World Bank telah dilakukan dan menghasilkan kesepakatan antara pihak-pihak terkait.

Tentu saja, terdapat sejarah panjang di balik penjaminan utang negara ini, bermula dari tahun 1949 hingga saat ini. Langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan kesinambungan program ini juga telah disusun. Dengan berbagai kerjasama dan penjaminan yang telah terjadi sejak tahun 2009, semoga Indonesia dapat mengelola utangnya dengan bijaksana. Keseluruhan proses ini tentu memerlukan komitmen dan kerja keras dari semua pihak terkait.

Semua Berita

Negara Andalkan Aplikator: Cerdas dan Kompetitif

Di Indonesia, aplikasi digital semakin merajalela dan menciptakan ekosistem yang dinamis namun penuh kontradiksi. Meskipun aplikasi ini menawarkan kemudahan akses, namun juga menimbulkan perselisihan antara kepentingan perusahaan dan hak-hak pekerja. Regulator tampaknya melemparkan tanggung jawabnya pada peraturan menteri yang...

Menjaga Pariwisata Indonesia: Pentingnya Konservasi dan Keberlanjutan

Pariwisata Indonesia masih dihantui oleh masalah sampah yang menjadi perhatian utama. Masalah ini bukan hanya soal kebersihan semata, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan, kenyamanan wisatawan, dan citra negara. Terutama di destinasi pariwisata di wilayah kepulauan, sampah yang dibuang sembarangan...

Haji: Lebih dari Perjalanan Fisik Menuju Tanah Suci

Setiap tahunnya, jutaan umat Islam merindukan kesempatan untuk beribadah haji ke Tanah Suci. Namun, Prof. Dr. Aswadi, M.Ag, Konsultan Bimbingan Ibadah Haji Daker Madinah PPIH Arab Saudi 2025, menegaskan bahwa haji bukan hanya sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci....

Kategori Berita