Rumor tentang Yasser Arafat...

Opini Broto Wardoyo membahas bagaimana citra Yasser Arafat dibentuk oleh konflik narasi yang berkepanjangan.

Yayasan Paseban Hadirkan Pusat...

Yayasan Paseban menghadirkan pusat konservasi Rusa Timor modern untuk memperkuat perlindungan fauna lokal.

Putusan MK 28/2026 Dinilai...

Ari Yusuf Amir menekankan bahwa audit kerugian negara harus dilakukan oleh lembaga yang berwenang yakni BPK.

UI Bahas Cara Diplomasi...

Resilience-based hedging menjadi pendekatan diplomasi yang menekankan ketahanan dari dalam dan luar negeri sekaligus.
HomePolitikEksistensi PCO Pasca...

Eksistensi PCO Pasca Prasetyo Sebagai Jubir Prabowo

Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk Menteri Sekretaris Negara (Menseneg) Prasetyo Hadi sebagai juru bicara (jubir) presiden. Polemik juga muncul mengenai Kantor Komunikasi Presiden (PCO) yang dipimpin oleh Hasan Nasbi. Meski demikian, penunjukan Prasetyo sebagai jubir tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran PCO, melainkan untuk memperkuat komunikasi politik pemerintah.

Komisaris Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menyatakan bahwa penunjukan Prasetyo sebagai jubir merupakan langkah Prabowo untuk meningkatkan komunikasi politik pemerintah, mungkin karena kekecewaan pada performa Hasan Nasbi. Prasetyo dan Angga Raka, sebagai tokoh Gerindra, adalah orang-orang terdekat Prabowo, sehingga peran baru mereka menandakan adanya restrukturisasi dalam lingkaran kekuasaan Istana.

Selain itu, eksistensi PCO juga dipertanyakan oleh beberapa pihak, terutama setelah munculnya gugatan terhadap regulasinya di Mahkamah Agung. Uji materiil terhadap Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2024 tentang Kantor Komunikasi Kepresidenan memperjelas bahwa keberadaan PCO belum sepenuhnya diakui. Menurut analis politik, Ahmad Chumaedy, penunjukan Prasetyo bisa menjadi cara Prabowo untuk memperkuat komunikasi publik pemerintahannya, terutama setelah pernyataan kontroversial Hasan Nasbi terkait kiriman kepala babi ke Tempo.

Dalam situasi regrouping di lingkaran kekuasaan, tidak menutup kemungkinan bahwa peran Hasan Nasbi akan berkurang, terutama dalam upaya memperkuat kohesifitas dan kontrol dari komunikasi politik pemerintah. Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berusaha membangun narasi yang solid dan meminimalisir friksi komunikasi yang tidak diinginkan.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita