Transformasi digital telah mengubah lanskap jurnalisme global, dengan Indonesia berada di pusat penting antara kemajuan teknologi dan nilai etika dalam pers. Saat Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, membuka Konvensi Nasional Media Massa di Hari Pers Nasional 2026, di Hotel Aston, Serang, Banten, momentum ini semakin terasa. Konvensi dengan tema “Pers, AI, dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik” berhasil menyatukan berbagai tokoh pers, pimpinan media, Dewan Pers, dan praktisi komunikasi. Acara ini menjadi wadah untuk merenungkan dan merumuskan arah masa depan jurnalisme Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Meutya Hafid, dalam pidatonya, menekankan bahwa meskipun transformasi digital membawa efisiensi dan kecepatan, pers harus tetap setia pada tujuan utamanya, yaitu melayani kepentingan publik dan menjaga kualitas demokrasi. Keberadaan kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat pendukung bagi jurnalis, bukan pengganti naluri kritis dan tanggung jawab etis yang dimiliki wartawan. Pemerintah pun tengah mempersiapkan kebijakan digital yang bertujuan melindungi ekosistem informasi nasional dari distorsi dan ketimpangan, serta membangun hubungan yang lebih adil dan transparan antara platform digital global dan media lokal.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia pers, terutama di daerah, menjadi sorotan penting. Pelatihan kecakapan digital bagi wartawan dianggap krusial untuk mengurangi kesenjangan informasi antara pusat dan wilayah, serta menjaga standar jurnalistik di seluruh Indonesia. Konvensi ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam membangun dan menguatkan pers Indonesia di era teknologi canggih. Dengan komitmen bersama, forum ini memastikan keberlangsungan jurnalisme nasional dalam menghadapi tantangan dari kecerdasan buatan, sambil tetap mempertahankan integritas dan etika jurnalistik yang kuat.

