Broto Wardoyo: Profesionalisme Militer...

Profesionalisme militer tidak identik dengan pembatasan seluruh aktivitas militer hanya pada operasi pertahanan konvensional.

Nezar Patria Dukung Penyebarluasan...

Nezar Patria menilai penyebarluasan data konservasi penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap lingkungan.

Konservasi Megamendung Didorong Melampaui...

Konservasi Megamendung didorong menjadi gerakan lintas generasi yang terus berkembang melalui dukungan Paseban Foundation.

Paseban Foundation Tunjukkan Kemajuan...

Paseban Foundation menunjukkan kemajuan nyata dalam pemulihan bentang alam dan perlindungan keanekaragaman hayati.
HomePolitikMisi sulit mewujudkan...

Misi sulit mewujudkan koalisi dalam pilkada dengan suasana pilpres

Wacana untuk mengaplikasikan kerjasama politik yang terjadi pada Pilpres 2024 ke Pilkada Serentak 2024 telah diutarakan oleh para politikus yang mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran). Pemetaan politik di tingkat daerah sudah dimulai untuk mewujudkan rencana tersebut. Para kandidat juga sudah mulai dipertimbangkan.

Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim, dengan tegas menyatakan bahwa partainya akan membawa Koalisi Perubahan hingga Pilkada Serentak yang akan dilaksanakan pada bulan November 2024. Mereka akan mendukung pasangan AMIN yang terdiri dari NasDem, PKS, dan PKB.

Di kubu Prabowo-Gibran, Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno juga mengungkapkan rencana serupa. Beberapa partai di dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) berencana untuk berkoalisi kembali dalam Pilkada Serentak 2024, termasuk Gerindra, Golkar, Demokrat, dan PAN. Pasangan Prabowo-Gibran juga didukung oleh lima partai nonparlemen, yaitu PSI, PBB, Gelora, Garuda, dan Prima.

Kunto Adi Wibowo, Kepala Pusat Studi Komunikasi, Media, dan Budaya Universitas Padjadjaran, berpendapat bahwa rencana elite parpol untuk membentuk koalisi dalam Pilkada 2024 adalah hal yang wajar. Namun, dia menilai bahwa membangun koalisi permanen untuk menghadapi Pilkada 2024 akan sulit terwujud karena perbedaan dinamika antara politik nasional dan politik daerah.

Menurut Kunto, meskipun para partai berkoalisi untuk menghadapi Pilkada Serentak yang jumlahnya sangat banyak, namun kemungkinan akan terjadi perbedaan koalisi di tingkat kabupaten atau kota. Hal ini disebabkan oleh dinamika politik yang berbeda-beda di setiap daerah.

Source link

Semua Berita

Spesifikasi KRI Gajah Mada: Kapal Induk Baru TNI AL dari Italia

Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Akan Menjadi KRI Gajah Mada Jakarta - Kapal induk Giuseppe Garibaldi mulai berlayar dari Italia menuju Indonesia dan dijadwalkan menjadi kapal induk pertama yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Kapal tersebut diperkirakan akan tiba di Indonesia sekitar...

Panduan lengkap IKD dan cara membuatnya

Apa Itu Identitas Kependudukan Digital (IKD) dan Bagaimana Cara Membuatnya? Identitas Kependudukan Digital atau IKD telah menjadi bagian penting dari transformasi administrasi kependudukan di Indonesia. Layanan ini memungkinkan akses identitas kependudukan secara digital melalui telepon seluler. Berikut penjelasan lebih lanjut...

Mengenal Sayuti Melik: Pengetik Teks Proklamasi

Sayuti Melik: Sosok di Balik Pengetik Teks Proklamasi Sayuti Melik, tokoh penting dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 November 1908. Aktif dalam kegiatan politik dan jurnalistik sejak muda, Sayuti Melik dikenal sebagai aktivis nasionalis yang...

Kategori Berita