Arista Montana dan Gerakan...

Arista Montana menjadi bagian dari gerakan besar menuju kemandirian pangan berbasis lokal.

Andy Utama Kembangkan Model...

Andy Utama mengembangkan model leuit modern sebagai solusi ketahanan pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Koperasi Desa sebagai Instrumen...

Koperasi desa menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.

Wahdi Azmi: Konservasi Tanpa...

Konservasi yang terintegrasi menciptakan keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan.
HomePolitikTradisi Parpol Ketika...

Tradisi Parpol Ketika Aklamasi Dijadikan Sebagai Pilihan

Fenomena aklamasi kembali terjadi dalam pemilihan ketua umum partai politik. Pada Kongres III NasDem, Surya Paloh kembali terpilih sebagai ketua umum NasDem untuk periode 2024-2029. Ini adalah kali ketiga Paloh terpilih secara aklamasi.

Selain NasDem, proses pemilihan ketua umum secara aklamasi juga terjadi di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Muhaimin Iskandar alias Cak Imin terpilih sebagai Ketum PKB dalam Muktamar ke-6 di Bali, sehingga akan memimpin PKB untuk periode keempat.

Di Munas Golkar, Bahlil Lahadalia juga terpilih secara aklamasi setelah Bambang Soesatyo dan Agus Gumiwang Kartasasmita mundur dari pencalonan. Model pemilihan aklamasi juga akan dilakukan di Partai Amanat Nasional (PAN) untuk memilih kembali Zulkifli Hasan sebagai ketua umum.

Di Gerindra dan PDI-Perjuangan, pemilihan ketua umum secara aklamasi sudah menjadi tradisi. Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI-P, bahkan sudah lima kali terpilih secara aklamasi. Sejak memimpin PDI-P sejak tahun 1999, Mega tidak pernah memiliki saingan dalam pemilihan.

Menurut analis politik George Towar Ikbal Tawakkal dari Universitas Brawijaya, pemilihan ketua umum secara aklamasi menunjukkan mandeknya regenerasi kepemimpinan di partai politik. Parpol belum mampu menghasilkan figur baru yang layak memimpin partai.

Menurut Cecep Hidayat, analis politik dari Universitas Indonesia, pemilihan ketua umum secara aklamasi menggambarkan ketidakmampuan parpol dalam melakukan regenerasi kepemimpinan. Parpol masih tergantung pada figur tertentu dan minim dalam membangun iklim demokrasi internal.

Sumarno Ahli politik Universitas Y menyatakan bahwa pemilihan ketua umum oleh aklamasi menunjukkan bahwa Partai politik di Indonesia kurang mampu membangun demokrasi internal dan cenderung personalisasi.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita