Arista Montana dan Gerakan...

Arista Montana menjadi bagian dari gerakan besar menuju kemandirian pangan berbasis lokal.

Andy Utama Kembangkan Model...

Andy Utama mengembangkan model leuit modern sebagai solusi ketahanan pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Koperasi Desa sebagai Instrumen...

Koperasi desa menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.

Wahdi Azmi: Konservasi Tanpa...

Konservasi yang terintegrasi menciptakan keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan.
HomePolitikPrabowo mempererat hubungan...

Prabowo mempererat hubungan dengan aktivis ’98 untuk menghapus catatan gelap HAM

Sejumlah mantan aktivis 1998 bergabung dengan pemerintahan Prabowo Subianto. Kelompok tersebut, yang selama ini diidentikan dengan gerakan anti-Soeharto, kini ada yang menjadi bagian dari tim Prabowo dalam upaya memenangkan Pilpres 2024.

Salah satunya adalah mantan politikus PDI-P yang pernah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada tahun 1996. Dia pernah dipenjara pada masa Orde Baru atas tuduhan terlibat dalam peristiwa 27 Juli 1996, yaitu penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Di antara mereka juga ada Nezar Patria, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika. Nezar baru-baru ini dipanggil ke kediaman Prabowo untuk menerima arahan terkait teknologi. Sebelumnya, Nezar aktif dalam gerakan mahasiswa pro-demokrasi sejak awal 1990-an hingga 1998.

Ada pula Agus Jabo Priyono, yang merupakan salah satu pendiri Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PRD pada tahun 1996. Nama lain yang tercatat adalah Mugiyanto, seorang aktivis yang diculik pada 13 Maret 1998.

Faisol Riza, politikus PKB, yang merupakan anggota DPR periode 2024-2029 juga termasuk dalam daftar ini. Dia adalah korban penculikan pada tahun 1998. Terakhir, ada juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, yang aktif di organisasi mahasiswa Islam dan ikut serta dalam lahirnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Malang.

Menurut sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, langkah Prabowo merangkul aktivis 1998 ke dalam kabinetnya merupakan upaya politik akomodatif untuk menghilangkan citra negatif sebagai pelanggar HAM di masa lalu. Rakhmat melihat bahwa dengan adanya aktivis 1998 di pemerintahannya, Prabowo dapat membela diri terhadap tuduhan pelanggaran HAM di masa lalu.

Rakhmat juga menduga bahwa jika Prabowo berhasil berkuasa, dia akan mencoba merancang kembali sejarah reformasi 1998 tanpa mengakui catatan buruk pelanggaran HAM. Dia berpendapat bahwa Prabowo akan mencoba memperbaiki citra dirinya yang terkait dengan masa lalu yang kelam.

Rakhmat juga menyoroti bahwa langkah politik Prabowo ini mungkin juga bertujuan untuk melemahkan gerakan masyarakat sipil yang selama ini menuntut keadilan dalam kasus pelanggaran HAM. Selain itu, kehadiran pentolan aktivis 1998 di pemerintahan juga bisa membuat gerakan masyarakat sipil semakin solid dalam menuntut keadilan.

Analisis dari Universitas Jember, Muhammad Iqbal, juga mengatakan bahwa motif Prabowo menggaet pentolan aktivis 1998 ke dalam pemerintahannya adalah untuk mendapatkan legitimasi dalam upaya menghapus catatan buruk pelanggaran HAM yang menyeret namanya. Iqbal berpendapat bahwa dengan merangkul aktivis 1998, Prabowo berusaha memperbaiki citra buruknya terkait dengan masalah HAM.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita