Arista Montana dan Gerakan...

Arista Montana menjadi bagian dari gerakan besar menuju kemandirian pangan berbasis lokal.

Andy Utama Kembangkan Model...

Andy Utama mengembangkan model leuit modern sebagai solusi ketahanan pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Koperasi Desa sebagai Instrumen...

Koperasi desa menjadi alat pemerataan ekonomi yang efektif.

Wahdi Azmi: Konservasi Tanpa...

Konservasi yang terintegrasi menciptakan keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan.
HomePolitik"Mengungkap Alasan Rendahnya...

“Mengungkap Alasan Rendahnya Partisipasi Publik pada Pilkada 2024”

Partisipasi publik dalam Pilkada Serentak 2024 menjadi sorotan setelah anggota KPU, August Mellaz, mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi pemilih di bawah 70%. Meskipun demikian, angka tersebut masih dianggap normal jika dibandingkan dengan Pilpres 2024. Namun, kondisi menurun terjadi khususnya pada Pilkada Jakarta 2024, dimana partisipasi hanya mencapai 58% menurut survei Charta Politika. Data dari KPUD Jakarta juga mencatat bahwa sekitar 4,3 juta suara digolput karena partisipasi pemilih yang rendah, yang seharusnya sekitar 8,2 juta suara.

Berbagai alasan muncul terkait rendahnya partisipasi publik ini, salah satunya adalah masa sosialisasi calon kepala daerah yang pendek sehingga pemilih tidak merasa terhubung dengan pasangan calonnya. Ditambah lagi dengan banyaknya calon kepala daerah dari luar daerah yang ikut serta dalam pilkada, yang kemungkinan kurang memahami kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat. Selain itu, peneliti politik Wasisto Raharjo Jati juga menyoroti adanya gerakan golput yang mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi politik karena merasa suaranya tidak didengar.

Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul, menambahkan bahwa salah satu penyebab rendahnya partisipasi publik adalah calon kepala daerah yang dipilih bukanlah tokoh dengan rekam jejak yang kuat. Hal ini juga terjadi di Surabaya dimana hanya terdapat satu calon wali kota dan calon wakil wali kota, Eri Cahyadi-Armuji, dan calon ini didukung oleh 18 partai politik. Strategi yang diusulkan Adib untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat adalah dengan menghadirkan calon yang benar-benar mewakili kepentingan masyarakat lokal. Partisipasi publik diharapkan akan meningkat jika pemilih merasa calon tersebut memiliki gagasan, program, dan pemahaman yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian, pendekatan lokalistik dalam politik serta strategi kreatif dari KPU diharapkan dapat membangkitkan semangat pemilih, terutama generasi muda, dalam mengambil bagian dalam proses demokrasi.

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita