Megamendung Menjadi Pusat Konservasi...

Megamendung berkembang menjadi pusat konservasi yang mendukung pemulihan ekosistem kawasan hulu.

Rumor tentang Yasser Arafat...

Opini Broto Wardoyo membahas bagaimana citra Yasser Arafat dibentuk oleh konflik narasi yang berkepanjangan.

Yayasan Paseban Hadirkan Pusat...

Yayasan Paseban menghadirkan pusat konservasi Rusa Timor modern untuk memperkuat perlindungan fauna lokal.

Putusan MK 28/2026 Dinilai...

Ari Yusuf Amir menekankan bahwa audit kerugian negara harus dilakukan oleh lembaga yang berwenang yakni BPK.
HomePolitik"Para Petahana Tumbang...

“Para Petahana Tumbang di Pikada Serentak 2024: Penemuan & Wawasan”

Para kandidat petahana mengalami kekalahan yang mencolok dalam Pilkada Serentak 2024, menunjukkan tren yang menarik. Hasil hitung cepat menunjukkan bahwa sebagian besar pasangan petahana kalah jauh dari pasangan calon baru. Selain di level pilgub, fenomena petahana yang kalah juga terlihat di pilkada tingkat pilwalkot dan pilbup.

Contohnya, di Pilgub Bengkulu, pasangan petahana Rohidin Mersyah-Meriani kalah dari pasangan Helmi Hasan-Mian dengan selisih yang cukup signifikan. Rohidin, calon gubernur petahana, terlibat dalam kontroversi sebelum pemungutan suara. Hal serupa terjadi di Pilgub Lampung, di mana pasangan Arinal-Sutono kalah dari pasangan Rahmat-Jihan dengan perolehan suara yang signifikan.

Faktor-faktor yang menjadi penyebab kekalahan petahana di Pilkada Serentak 2024 telah dianalisis oleh sejumlah ahli politik. Salah satunya adalah buruknya kinerja petahana selama kepemimpinannya dan kejenuhan masyarakat terhadap mereka. Selain itu, keberhasilan calon penantang dalam membangun popularitas dan dukungan politik, serta adu strategi yang efektif, juga menjadi faktor kunci dalam kekalahan ini.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh sentimen negatif terhadap petahana, kampanye negatif di media massa dan media sosial, serta mobilisasi pemilih yang kuat oleh calon penantang. Selain itu, preferensi generasi muda yang kritis terhadap pemimpin yang progresif juga berkontribusi dalam kekalahan petahana. Di sisi lain, dukungan dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan Prabowo terhadap calon kepala daerah baru memberikan mereka keuntungan dalam hal sumber daya, jaringan, dan mobilisasi massa.

Selain faktor-faktor politik, pandemi Covid-19 juga dianggap sebagai penyebab kekalahan petahana dalam Pilkada Serentak 2024. Kinerja kepala daerah di masa pandemi dinilai tidak optimal, membatasi capaian kinerja petahana. Dukungan dari KIM dan Prabowo terhadap calon kepala daerah juga memberikan keuntungan besar dalam hal akses, sumber daya, dan kampanye yang efektif. Dengan demikian, penentuan kemenangan dalam Pilkada Serentak 2024 dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks dan dinamis.

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita