Wednesday, January 21, 2026

Mengapa Pasal 433–434 KUHP...

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan bahwa wartawan tidak dapat dipidana maupun digugat secara...

Insanul Fahmi: Panggilan Polda...

Insanul Fahmi, seorang pengusaha, akhirnya datang untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan penipuan...

Perlindungan Hukum Wartawan Saat...

Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan pentingnya perlindungan hukum khusus bagi wartawan guna mencegah praktik...

Penolakan PKS Pesantren Al...

Aksi penolakan keberadaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Desa Ridan Permai Kecamatan Bangkinang...
HomePolitikStrategi Koncoisme dalam...

Strategi Koncoisme dalam Mutasi Jabatan Kader PSI di Kemenhut

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah menarik 11 kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk bergabung di kementeriannya. Mereka akan mengisi jabatan di Operation Management Office (OMO) Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 234/2024. Salah satu di antara mereka adalah Andy Budiman sebagai anggota Dewan Penasehat, Kokok Dirgantoro sebagai anggota bidang Pengelolaan Hutan Lestari, dan Sigit Widodo sebagai anggota bidang Peningkatan Cadangan Karbon. Gaji para petinggi FOLU Net Sink 2030 terbilang tinggi, dengan pengarah atau penanggung jawab menerima hingga Rp50 juta per bulan, ketua pelaksana dan ketua harian sebesar Rp30 juta per bulan, serta anggota biasa sebesar Rp20 juta. Menteri Raja Juli berperan sebagai penanggung jawab dalam struktur keorganisasian FOLU Net Sink 2030.

Program FOLU Net Sink 2030 adalah perintah dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2021, yang bertujuan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 29% pada tahun 2030, dengan kontribusi sektor pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan sebesar 17,2%. Namun, analis politik Khairunnisa Lubis dari Universitas Medan Area menilai bahwa Raja Juli menerapkan politik koncoisme dengan membawa sejumlah kader PSI ke Kemenhut, meniru pola yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk pendukungnya. Namun, Nisah menekankan bahwa politik koncoisme dapat merugikan sistem meritokrasi yang berlandaskan kompetensi.

Dalam Kabinet Merah Putih (KMP), terdapat 54 perwakilan parpol, dengan Partai Gerindra yang mendapatkan porsi terbanyak. Tak hanya itu, 34 dari 48 menteri di kabinet Prabowo-Gibran memiliki keterkaitan dengan bisnis, termasuk beberapa yang terafiliasi dengan bisnis ekstraktif. Sosiolog Rakhmat Hidayat dari Universitas Negeri Jakarta berpendapat bahwa politik koncoisme mengabaikan profesionalisme dan kompetensi, menyebabkan manajemen yang tidak efisien di kementerian atau institusi yang terpengaruh.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita