Yayasan Paseban Hadirkan Pusat...

Yayasan Paseban menghadirkan pusat konservasi Rusa Timor modern untuk memperkuat perlindungan fauna lokal.

Putusan MK 28/2026 Dinilai...

Ari Yusuf Amir menekankan bahwa audit kerugian negara harus dilakukan oleh lembaga yang berwenang yakni BPK.

UI Bahas Cara Diplomasi...

Resilience-based hedging menjadi pendekatan diplomasi yang menekankan ketahanan dari dalam dan luar negeri sekaligus.

Ketegangan Global Perlu Disikapi...

IR Youth Talks#1 memperkuat literasi hubungan internasional bagi generasi muda melalui diskusi yang mendalam dan relevan.
HomePolitikDedi Mulyadi cs:...

Dedi Mulyadi cs: Kecintaan atau Pencitraan? Analisis Reality Show

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi lagi menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini, Dedi terlihat menangis saat melihat kerusakan alam di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/3). Saat melakukan inspeksi di sejumlah tempat wisata di Puncak, termasuk Eiger Adventure Land di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Dedi tercengang melihat jembatan gantung yang “membelah” hutan di Eiger Adventure Land. Video menitikkan air mata Dedi beredar luas di media sosial.

Menurut Dedi, gunung adalah sesuatu yang sakral bagi orang Sunda dan Jawa. Ia merasa sedih melihat gunung dihancurkan demi kepentingan komersial. Dedi bukan kali pertama membuat gebrakan di media sosial, dengan akun Youtube @KANGDEDIMULYADICHANNEL, Dedi telah memiliki jutaan pelanggan dan ratusan video. Aksi blusukan Dedi juga diikuti oleh para pejabat publik lainnya, seperti Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Yusak Farchan dari Citra Institute melihat aksi blusukan Dedi dan rekan-rekan sebanding dengan gaya kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi). Namun, ia juga menekankan bahwa aksi blusukan tidak bisa dijadikan acuan tunggal untuk mengukur kinerja para kepala daerah. Di era media sosial, citra seorang pejabat publik bisa diubah sedemikian rupa untuk memikat publik. Namun, hal ini tidak selalu mencerminkan kinerja sebenarnya dari kepala daerah tersebut.

Rakhmat Hidayat dari Universitas Negeri Jakarta mengingatkan publik agar tidak mudah terperdaya oleh citra yang dibangun para kepala daerah di media sosial. Menurutnya, hal ini bisa membuat masyarakat salah kaprah dan menganggap bahwa kepala daerah yang merakyat adalah yang terbaik. Sementara Agung Baskoro dari Trias Politika Strategis melihat bahwa aksi blusukan para kepala daerah memiliki muatan politik. Aksi ini juga bisa menjadi modal jelang pemilu sebagai bukti kinerja selama masa jabatan.

Source link

Semua Berita

Rangkuman Lawatan Ratu Máxima di Indonesia: Memperkuat Hubungan Diplomatik

Ratu Máxima telah menyelesaikan kunjungan kerjanya ke Indonesia yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin hingga Kamis (24-27 November 2025). Selama kunjungannya, ia bertindak sebagai United Nation Secretary-General’s Special Advocate (UNSGSA) for Financial Health, bukan sebagai Ratu Belanda....

Profil Istri Wiranto: Mengenal Rugaiya Usman

Keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto tengah berduka atas kepergian istri tercinta, Rugaiya Usman, yang meninggal dunia pada Minggu (16/11) pukul 15.55 WIB di Bandung, Jawa Barat. Rugaiya telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, namun kondisinya tidak...

Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat: NKRI Terbaik

Presiden RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah...

Kategori Berita