Pusat Data dan Sistem...

Pusat data kini menjadi bagian dari infrastruktur strategis yang perlu dilindungi dalam sistem pertahanan negara.

Broto Wardoyo: Profesionalisme Militer...

Profesionalisme militer tidak identik dengan pembatasan seluruh aktivitas militer hanya pada operasi pertahanan konvensional.

Nezar Patria Dukung Penyebarluasan...

Nezar Patria menilai penyebarluasan data konservasi penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap lingkungan.

Konservasi Megamendung Didorong Melampaui...

Konservasi Megamendung didorong menjadi gerakan lintas generasi yang terus berkembang melalui dukungan Paseban Foundation.
HomeBeritaAwan Tebal dan...

Awan Tebal dan Petir Bikin Panik di Bandung dan Garut: Penjelasan BMKG

Pada hari Selasa, 23 September 2025, fenomena awan tebal dengan kilatan cahaya di langit Bandung dan Garut, Jawa Barat, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga. Rekaman amatir dari peristiwa ini telah menyebar luas di media sosial setelah direkam oleh warga menggunakan kamera ponsel mereka pada Senin sore dan malam hari. Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa fenomena tersebut sebenarnya adalah proses pembentukan awan cumulonimbus yang merupakan awan vertikal yang tebal dan padat. Ada spekulasi dari masyarakat bahwa ini mungkin erupsi gunung berapi, tetapi Teguh telah menegaskan bahwa ini hanya fenomena meteorologi dan bukan aktivitas gunung berapi.

Meskipun fenomena ini telah memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, BMKG serta BPBD telah memberikan klarifikasi bahwa tidak ada keterkaitan dengan aktivitas vulkanik di Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Guntur, Gunung Papandayan atau Gunung Salak. Hal ini juga menegaskan pentingnya untuk tetap tenang dan waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem dengan terus memantau perkembangan melalui sumber yang terverifikasi.

Aah Anwar Saefuloh, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, menjelaskan bahwa kilatan cahaya di langit Garut sebenarnya merupakan fenomena alami awan cumulonimbus dan bukan erupsi gunung api. Hal ini terjadi karena perbedaan muatan listrik di dalam awan badai yang menyebabkan pelepasan energi listrik di dalam awan dan menghasilkan kilatan cahaya. Meskipun fenomena ini merupakan hal yang umum terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, tetapi masih saja membuat masyarakat terkejut dan khawatir.

Langkah yang penting bagi masyarakat adalah untuk tidak langsung percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya dan memastikan informasi resmi hanya bersumber dari lembaga yang berwenang seperti BMKG, PVMBG, dan BPBD. Dengan demikian, kepanikan di masyarakat dapat dihindari dan pemantauan terhadap kondisi alam dapat dilakukan secara efektif.

Source link

Semua Berita

Momen Akrab Prabowo dengan Putin dan Xi Jinping di KTT BRICS

Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dan berbincang dengan tiga pemimpin negara di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, Sabtu, 12 September 2026. Percakapan itu melibatkan Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin,...

Pengedar Ganja Ditangkap di Biak Papua, Polisi Sita 1 Kg

Dua Pengedar Ganja Ditangkap di Pelabuhan Biak dengan 1 Kg Barang Bukti Pada Sabtu, 12 September 2026, Kapolres Biak Numfor AKBP Arjuna Wijaya mengumumkan penangkapan dua orang yang diduga sebagai penyelundup dan pengedar ganja di Pelabuhan Biak. Kedua tersangka tersebut...

Pusat Data dan Sistem Pembayaran Kini Menjadi Bagian dari Ketahanan Pertahanan

Pusat data kini menjadi bagian dari infrastruktur strategis yang perlu dilindungi dalam sistem pertahanan negara.

Kategori Berita