Ngertakeun Bumi Lamba XVIII...

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII memperkuat semangat kolektif menjaga keseimbangan ekosistem melalui nilai budaya dan tradisi.

Andy Utama Bangun Visi...

Andy Utama mengedepankan restorasi ekologis sebagai fondasi utama menjaga keseimbangan lingkungan Megamendung.

Penangkaran Rusa Timor Dukung...

Kawasan konservasi Megamendung terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra strategis.

Yayasan Paseban Perluas Upaya...

Kementerian Kehutanan meresmikan fasilitas konservasi yang mendukung perlindungan satwa dan habitat alaminya.
HomeBeritaProyek Jalan Soebrantas...

Proyek Jalan Soebrantas Kampar: Tenggat Akhir Tahun dan Spanduk Ancaman Pidana

Proyek peningkatan jalan di Jalur HR Soebrantas menuju Kompleks Kantor Bupati Kampar, Provinsi Riau, mengalami kebuntuan hingga menjelang akhir tahun 2025. Konflik dengan warga telah menghambat kemajuan pekerjaan, dan situasi di lapangan terlihat mati suri dengan spanduk peringatan keras yang dipasang. Timbul pertanyaan mengenai kelanjutan proyek ini, karena waktu semakin menipis dengan tinggalnya hitungan hari menjelang akhir tahun 2025.

Di tengah ketegangan yang terjadi, Ketua Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (LPPNRI) Kabupaten Kampar, Daulat Panjaitan, menyerukan agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan untuk melanjutkan proyek tersebut. Daulat menekankan urgensi dari penyelesaian proyek tersebut, mengingat potensi pemborosan anggaran dan kegagalan dalam mencapai target pembangunan akibat penundaan kerja.

Meskipun komitmen dari internal pemerintah untuk melanjutkan proyek tersebut telah diutarakan, namun realisasi di lapangan belum terlihat. Secara resmi, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kampar menyatakan akan melanjutkan pekerjaan, namun masih ada kendala terkait ganti rugi dengan warga yang belum terselesaikan.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Kabupaten Kampar harus membuat keputusan penting mengenai pendekatan yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah ini. Pertanyaan besar adalah apakah akan dipilih pendekatan dialog dan negosiasi dengan warga atau menggunakan tindakan represif dengan melibatkan aparat keamanan. Keputusan tersebut tidak hanya akan berpengaruh pada kelanjutan proyek, tetapi juga citra pemerintah dalam menangani konflik sosial untuk pembangunan. Tenggat waktu akhir tahun 2025 semakin mendekat, menimbulkan tekanan pada efektivitas penggunaan anggaran daerah dan akuntabilitas dalam melaksanakan proyek.

Source link

Semua Berita

RDP DPRD Inhil Bahas HGU 3.811,79 Hektare PT GHM: Kompensasi Warga Dibatalkan

Di Tembilahan, DPRD Kabupaten Indragiri Hilir menyelenggarakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pemerintah daerah, Kantor Pertanahan, PT Guntung Hasrat Makmur, LBH Sri Rakyat, dan perwakilan masyarakat. Mereka membahas status dan tindak lanjut pelepasan Hak Guna Usaha (HGU) PT GHM...

Mengapa Negara Harus Terlibat dalam Peningkatan Tata Niaga Petani

Harga Kelapa di Inhil Terus Melemah, Akademisi UNISI Tekankan Pentingnya Kehadiran Negara Keberlangsungan harga kelapa yang terus mengalami penurunan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali menjadi sorotan. Dampaknya tak hanya dirasakan oleh petani, namun juga masyarakat yang menggantungkan hidup pada...

Polantas Karib Hadir di Car Free Day untuk Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas

Satlantas Polres Indragiri Hilir Kampanyekan Keselamatan Berlalu Lintas di Car Free Day Satlantas Polres Indragiri Hilir (Inhil) terus memprioritaskan pendekatan humanis dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berlalu lintas. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Polantas Karib di area...

Kategori Berita